• D89F8730
  • goldwinn88@gmail.com
  • +6281382786681
  • gold_win88

Moise Kean, Bukti Rasisme Tak Bisa Lagi Dilawan Sebatas Kampanye & Slogan

Apa yang menimpa Moise Kean Selasa lalu menjadi bukti bahwa rasisme dalam sepakbola akan selalu eksis.

Segenap usaha perlawanan memang sudah ditempuh, di antaranya seperti menyebarkan kampanye dan slogan-slogan anti rasisme, demikian juga melibatkan otoritas sepakbola dengan menyampaikan pesan-pesan tolak diskriminasi. Namun, faktanya, rasisme masih menjadi momok bagi para lakon sepakbola berkulit hitam dewasa ini.

Berkaca sedikit ke belakang, tepatnya pada 2017, Sulley Muntari yang bermain bagi Pescara, mendapatkan perlakukan yang sangat tidak mengenakkan dari fans Cagliari. Nyanyian bernada rasial terdengar kencang hingga membuat sang gelandang menghampiri fans musuh. Ironisnya, protes Muntari malah berbuntut kartu kuning dari wasit.

Demikian pula yang dialami Rhian Brewster dalam satu kesempatan di tahun yang sama. Pelatih striker berbakat Inggris dan Liverpool itu, Steve Cooper, sampai turun tangan menghampiri wasit. Tapi apa daya, sang juru taktik malah dianggap menggangu ofisial pertandingan.

Sepakbola ternyata tak mampu melindungi para pelakunya dari serangan rasial. Sepakbola tak kuasa menyelesaikan masalah pelecehen terhadap etnis. Berbicara isu rasisme, berarti kita tengah berhadapan dengan penyakit sosial.

Pascal Chimbonda, legenda Tottenham Hotspur, sudah kenyang terlibat dalam hingar-bingar usaha memerangi rasisme melalui tebaran kampanye, slogan serta pesan-pesan antipati terhadap isu satu ini. Namun, mantan defender ini pun sampai pada satu titik pemahaman: berkata tanpa tindakan konkret justru hanya akan membuat rasisme dalam sepakbola semakin berkembang.

Menurutnya, perlu ada terobosan yang sifatnya berani untuk menghentikan masalah satu ini.

"Lihat, saya berusia 40 tahun sekarang. Ini terjadi pada saya ketika saya berusia 25 tahun. Jadi, ini akan terus terjadi. Tidak akan pernah berubah. Rasisme selalu melekat pada sepakbola. Ketika saya masih bermain, itu terjadi pada saya di Prancis. Sangat buruk. Itulah kenapa saya hengkang dan bermain di Inggris," ujar Chimbonda kepada Mirror Sport.

"Ketika saya berada di Prancis, bermain bagi Bastia, mereka pelaku rasis meludahi saya di lapangan. Banyak hal terjadi pada saya. Ini sesuatu yang saya sebetulnya tak ingin bicarakan. Sebab, ini selalu akan datang menimpa saya. Sungguh sangat buruk, amat sangat buruk. Tak seorang pun bisa melakukan apa pun melawan ini, tak seorang pun!" kenangnya.Bagi Chimbonda, sudah saatnya para korban diskriminasi dalam sepakbola bertindak nyata di lapangan ketika mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Sang legenda mengajak para pemain berkulit hitam untuk melakukan tindakan berani dengan mengandalkan 'player power'.

"Saya hampir melakukan walk out di Prancis keitka saya bermain di sana. Tapi mereka [klub Chimbonda] menghentikan saya. Mereka mengatakan 'Tidak, jangan memberi orang-orang sebuah alasan untuk memaksa Anda keluar lapangan'," kata Chimbonda.

"Tapi, jika saya bermain di Liga Primer sekarang, saya akan melakukan hal itu. Saya akan walk out dari lapangan," tegasnya.

Kevin Prince-Boateng, kala memperkuat Milan, sudah pernah melakukannya dengan memilih meninggalkan lapangan ketika mendengarkan cemoohan berbau diskriminasi sepanjang pertandingan.

Ajakan walk out yang digaungkan Chimbonda cukup logis. Hanya saja, akan bertentangan dengan regulasi FIFA dan UEFA. Menurut badan tertinggi sepakbola dunia dan Eropa itu, setiap pemain harus mengikuti protokol pertandingan: berbicara terlebih dahulu kepada wasit, yang akan melanjutkannya ke ofisial keempat. Setelah itu, barulah pengumuman dibuat untuk memberi alarm bagi fans, bahkan laga bisa disetop total.

Akan tetapi, seperti telah dijelaskan di atas, Muntari dan Brewster pada kenyataannya justru tidak mendapatkan haknya ketika protes dilancarkan kepada wasit atas nyanyian rasial. Ujung-ujungnya, kedua pemain ini diganjar kartu kuning.

Di masa kini, Mario Balotelli turut merasakan ketika dihadiahi kartu kuning hanya karena membela diri di hadapan wasit atas serangan rasial yang dilakukan fans Dijon.

Presiden UEFA Aleksander Ceferin menyadari, wasit dalam hal ini mesti bersikap adil. Dalam konferensi Equal Game di Wembley pada pekan ini, Ceferin mendorong agar para pengadil lapangan harus "berani" dalam menghentikan pertandingan jika suara-suara primitif mulai membahana.


2013 lalu, Raheem Sterling dan Yaya Toure sebetulnya sudah meminta perlindungan kepada otoritas tertinggi sepakbola setempat. Namun, enam tahun kemudian, kita bisa mendapati isu rasisme bukannya lenyap, malah semakin akut.

Kita semua melihat, bagaimana Sterling sampai "harus" memberi gesture bak monyet dalam rangka membalas ejekan fans Montenegro ketika bintang muda Manchester Cityitu mencetak gol ke gawang mereka dengan membawa Inggris berpesta lima gol.

Kembali ke masalah Kean. Youngster Italia ini tengah dalam proses berkembang menjadi pesepakbola profesional. Namun, di usianya yang masih 19 tahun, dia harus berhadapan dengan masalah rasisme. 

Bocah berbakat ini sedang butuh-butuhnya dukungan, bukannya disalah-salahkan seperti yang dilakukan rekannya sendiri, Leonardo Bonucci, Selasa lalu, yang menilai sikap juniornya itu keliru karena melakukan selebrasi provokatif di depan fans Cagliari, alih-alih memberikan pembelaan pada si pemuda.

Sudah saatnya FIFA dan UEFA melakukan tindakan tegas. Wacana pemberantasan rasisme dalam sepakbola berikut segala bentuk sanksinya yang dicanangkan mereka sejak lama mesti benar-benar diterapkan.

Hukuman yang ditegakkan pun harus bersifat masif. Jika dua badan tertinggi sepakbola tersebut mampu menerapkannya secara memuaskan, akan berdampak terutama dari segi sponsor, yang akan berpikir ulang untuk bermitra dengan klub yang berurusan dengan isu rasisme.

Jika tindakan tegas dari FIFA dan UEFA tak kunjung datang, lagi-lagi hanya kampanye dan slogan omong kosong yang dikedepankan, jangan salahkan mereka para korban rasisme yang akan bertindak dengan cara mereka sendiri. Ya, 'player power'.

Selasa lalu, Romelu Lukaku menyatakan, para pemain kulit hitam di timnas Inggris seperti Sterling, Danny Rose dan Callum Hudson-Odoi sudah saatnya bertindak dengan cara mereka sendiri setelah mendengar 'nyanyian monyet' yang memekik di laga kontra Montenegro.

"Pihak berwenang tidak akan melakukan apa pun. Ini [rasisme] akan selalu terjadi. Mereka tidak akan membuat sanksi berarti terhadap klub [pelaku rasis]. Sepakbola memang selalu saja seperti ini," keluh Chimbonda.

"Para pemain harus melakukan sesuatu. Terkadang, dalam satu tim ada empat, lima, enam bahkan sepuluh pemain asing. Tinggalkan lapangan bareng-bareng, lalu lihat apa yang terjadi. Orang-orang akan mempertimbangkan efeknya terhadap kami. Tapi sekarang ini, memang ini baru sebatas wacana," tandasnya.